![]() |
| lsky.com |
Sebagai sebuah karya yang adiluhung, karya sastra merupakan satu entitas yang demikian kompleks. Karya sastra menjadi kenyataan yang demikian subtil karena ia tidak berdiri secara otonom samasekali, ia tidak tercerabut dari realitas-realitas di luar dirinya, realitas sosial tentunya. Sejauh ini karya sastra galib disadari sebagai karya yang memuat saban peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, baik ia peristiwa sosial atau bahkan peristiwa metafisika-transenden yang coba disajikan dengan sebentuk karya oleh para pelaku sastra, misalnya Gus Mus-yang banyak menulis tentang getaran-getaran ilahiah-membangun karyanya dengan dimensi religousitas berbanding lurus dengan kenyataan sosial Gus Mus hidup yaitu, di pesantren, atau WS Rendra dengan syair-syair kritisnya yang membakar, juga tidak terlepas dari latar ia menekuri hidupannya.
Satu kenyataan bahwa, khazanah sastra Indonesia justeru asing dengan soal-soal disabelitas yang mesti diangkat menjadi satu proyeksi, untuk membuka persepsi masyarakat terhadap penyandang disabelitas sebagai individu yang spesial. Hingga sampai saat ini, khazanah sastra dan seni Indonesia terasa gagap dan takut untuk menyandingkan realitas sastra dengan kenyataan difabel di masyarakat. Ada kenyataan berpikir dikotomis dalam khazanah mereka. Jika sastra adalah satu entitas, maka disabelitas merupakan satu entitas yang lain; persoalan disabelitas adalah tanggung jawab kementrian sosial dan pekerja sosial (Peksos), sedang pelaku sastra lebih berhak untuk menekuri soal romantisme an sich.
